Republikbersuara.com, Jakarta – Isu pengunduran diri Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dari Kabinet Indonesia Maju semakin mencuat ke permukaan. Kabar tersebut semakin ramai dibicarakan setelah beredar informasi mengenai pertemuan antara Sri Mulyani dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor. Pertemuan itu disebut-sebut menjadi sinyal penting terkait arah politik dan kebijakan ekonomi nasional menjelang transisi pemerintahan baru.
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi baik dari pihak Sri Mulyani maupun dari Istana Negara. Sejumlah pejabat yang ditanyai wartawan justru memilih bungkam dan enggan memberikan kepastian terkait rumor yang beredar.
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menolak memastikan kabar tersebut saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan. Ia hanya memberikan jawaban singkat bahwa dirinya akan menghadiri rapat. “Nanti ya, rapat dulu ya. Nanti ya, nanti ya. Sabar ya semua,” ujarnya sambil berlalu dari kerumunan awak media pada Selasa (26/8/2025).
Nada serupa juga disampaikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Ia menegaskan tidak ingin berkomentar banyak. “Kami rapat dulu ya, terima kasih-terima kasih,” ucapnya singkat, sambil terus berjalan meninggalkan lokasi.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengaku belum mendengar informasi terkait isu mundurnya Sri Mulyani. “Belum saya dengar, terima kasih ya,” kata Airlangga singkat ketika dicecar pertanyaan wartawan. Sikap diam sejumlah pejabat ini justru memicu spekulasi publik mengenai adanya dinamika serius di internal pemerintahan terkait posisi Menkeu.
Isu pengunduran diri Sri Mulyani semakin sensitif mengingat perannya yang sangat penting dalam menjaga stabilitas fiskal Indonesia, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pembangunan. Sri Mulyani selama ini dikenal sebagai figur teknokrat yang dihormati di dalam maupun luar negeri karena konsistensinya menjaga disiplin anggaran. Mundurnya beliau, jika benar terjadi, diprediksi akan membawa implikasi besar bagi kepercayaan investor, pasar keuangan, hingga arah kebijakan fiskal di era pemerintahan berikutnya.
Di sisi lain, isu ini semakin panas setelah muncul laporan penjarahan di rumah pribadi Sri Mulyani di Jalan Mandar, Bintaro Sektor 3A, Tangerang Selatan, pada Minggu (31/8/2025) dini hari. Menurut kesaksian staf pengamanan rumah, Joko Sutrisno, kejadian itu berlangsung dalam dua gelombang. “Gelombang pertama sekitar jam satu dini hari, gelombang kedua terjadi sekitar jam tiga,” ujarnya.
Sejumlah warga sekitar, termasuk seorang saksi yang menyebut namanya Renzi, menguatkan keterangan tersebut. Bahkan tiga tenaga keamanan di pintu masuk kompleks Mandar juga membenarkan adanya massa yang masuk dan menjarah rumah Sri Mulyani. Namun mereka menegaskan bahwa saat kejadian, sang Menteri Keuangan tidak berada di rumah. “Tapi Bu Sri tidak ada di rumah kok,” kata Renzi, yang dibenarkan Joko Sutrisno.
Hingga berita ini diturunkan, belum jelas apakah penjarahan tersebut memiliki kaitan dengan isu politik yang sedang berkembang atau murni tindak kriminal. Namun, rentetan peristiwa ini membuat spekulasi publik semakin liar. Banyak pihak menilai diamnya pejabat negara justru menambah tanda tanya besar mengenai nasib Sri Mulyani di Kabinet Merah Putih serta arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam waktu dekat.
(Isa Mulyadi)


Komentar