Advertisement
Batam Peristiwa Pilihan Editor
Beranda » Konflik Kepala BPTIKP vs Kasubag TU Kian Menajam, Gubernur dan Inspektorat Dinilai Hanya Jadi Penonton “ WAYANG GOLEK “

Konflik Kepala BPTIKP vs Kasubag TU Kian Menajam, Gubernur dan Inspektorat Dinilai Hanya Jadi Penonton “ WAYANG GOLEK “

Republikbersuara.com, Batam – Pembiaran yang terkesan dilakukan Gubernur Kepulauan Riau dan Inspektorat Provinsi Kepulauan Riau terhadap insiden pertikaian terbuka antara Kepala BPTIKP dan Kasubag Tata Usaha bukan sekadar konflik internal biasa. Peristiwa ini dinilai sebagai indikator serius kegagalan kepemimpinan serta pelanggaran etika birokrasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.

Kepada Republikbersuara.com, Jumat (23/1/2026) pagi, Teddy Maembong menyebutkan bahwa sikap pembiaran tersebut mencerminkan ketidakmampuan pimpinan perangkat daerah dalam menjaga marwah jabatan serta mengelola organisasi secara profesional.

“BPTIKP yang seharusnya menjadi garda terdepan transformasi digital pendidikan justru mempertontonkan praktik kepemimpinan yang reaktif, emosional, dan jauh dari nilai-nilai tata kelola pemerintahan yang baik,” ujar Teddy.

Ia menambahkan, ketika seorang kepala balai terlibat langsung dalam pertengkaran terbuka dengan bawahannya, yang dipertaruhkan bukan hanya relasi kerja, tetapi juga wibawa institusi serta kepercayaan aparatur di dalamnya.

“Sikap tersebut menunjukkan lemahnya kompetensi manajerial, pengendalian diri, dan keteladanan etis yang seharusnya melekat pada seorang pimpinan,” tegasnya.

Ketua Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Ganjar Penghargaan I Wayan Wiradarma

Lebih lanjut, Teddy menilai apabila konflik diselesaikan melalui emosi dan konfrontasi terbuka, bukan melalui mekanisme organisasi yang semestinya, maka kelayakan pimpinan tersebut untuk tetap memimpin lembaga teknis strategis patut dipertanyakan.

“Atas dasar itu, kami memandang perlu adanya evaluasi serius dan objektif oleh Gubernur Kepulauan Riau melalui Inspektorat Provinsi. Jangan sampai kepala daerah dan aparat pengawas internal hanya menjadi penonton wayang golek,” katanya.

Menurut Teddy, pembiaran terhadap perilaku tidak profesional semacam ini hanya akan melanggengkan budaya kerja yang buruk dan berpotensi merusak integritas birokrasi secara sistemik.

“Pemerintahan yang sehat tidak dibangun oleh figur yang gagal mengelola konflik internal, melainkan oleh pemimpin yang matang secara etika, kuat secara manajerial, serta mampu menjaga kehormatan institusi dalam setiap situasi,” pungkasnya.

(jim)

Dinobatkan Pegang Partai Demokrat dan Gerindra Kepri, Yan Fitri: “Manusia Gak Ada Gawean”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement