Republikbersuara.com, Batam – Polemik rencana pembangunan Kantor Lurah Sukajadi kian memanas dan memicu gelombang penolakan dari warga. Ketegangan yang semula dimulai dari perbedaan pendapat terkait lokasi dan urgensi pembangunan, kini meluas menjadi konflik terbuka antara warga dan aparatur kelurahan, khususnya menyangkut sikap dan pernyataan Lurah Sukajadi, Ruskandar, yang dianggap arogan serta tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik.
Warga Geram dengan Ucapan Ruskandar
Akar kemarahan warga dipicu oleh pernyataan Ruskandar yang dinilai tidak pantas dan menyinggung perasaan masyarakat. Dalam sebuah pertemuan membahas pembangunan kantor lurah, Ruskandar disebut sempat membandingkan rencana pembangunan kantor lurah dengan “kondisi kamar warga yang nyaman.” Ucapan tersebut sontak memancing reaksi keras dari warga yang menganggap pernyataan itu melecehkan dan jauh dari profesionalisme seorang lurah.
“Masih ada lurah yang gak beretika baik dan berucap aneh-aneh. Masa membandingkan rencana pembangunan kantor lurah dengan kondisi kamar warga yang nyaman,” ujar salah seorang warga dalam rapat yang digelar pada Sabtu (15/11/2025) pagi. Menurut warga, pernyataan ini menunjukkan sikap meremehkan masyarakat dan memperlihatkan ketidakmatangan seorang pimpinan wilayah.
Dinilai Arogan
Selain soal ucapan, warga juga menyoroti cara komunikasi dan pendekatan Ruskandar dalam mendorong proyek pembangunan kantor lurah tersebut. Mereka menilai Ruskandar memaksakan kehendak dan tidak melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, termasuk mengenai lokasi, desain, serta kebutuhan anggaran. Padahal, proyek pembangunan fasilitas publik idealnya dikomunikasikan secara terbuka dan melalui mekanisme musyawarah bersama warga.
Beberapa warga mengklaim bahwa sejak awal, Ruskandar tidak pernah mengedepankan dialog, bahkan terkesan mengabaikan aspirasi masyarakat yang mempertanyakan urgensi proyek tersebut.
Desakan kepada Walikota dan Wakil Walikota
Melihat eskalasi konflik yang semakin melebar, warga Sukajadi sepakat mendorong Pemerintah Kota Batam untuk segera mengambil tindakan tegas. Mereka meminta Walikota Batam, Amsakar Achmad, serta Wakil Walikota, Claudia, agar mencopot Ruskandar dari jabatannya sebagai lurah.
“Ucapan Ruskandar itu tidak etika. Asal bicara, sikap arogan, dan tidak melibatkan warga dalam keputusan penting. Masih banyak lurah yang kompeten, makanya kami minta Walikota Batam segera copot,” tegas salah seorang warga lainnya.
Desakan ini bukan hanya spontan, tetapi telah menjadi aspirasi kolektif warga yang menilai kepemimpinan Ruskandar sudah kehilangan kepercayaan masyarakat.
Situasi Semakin Memanas
Ketegangan antara warga dan kelurahan diperkirakan akan terus berlangsung jika tidak ada langkah penyejuk dari pemerintah kota. Sejumlah tokoh masyarakat bahkan menyatakan siap membawa persoalan ini lebih jauh, termasuk menyampaikan laporan resmi dan menggelar aksi jika aspirasi mereka tidak direspons.
Warga berharap pemerintah kota segera turun tangan untuk meredakan situasi, melakukan evaluasi menyeluruh, serta memastikan proses pembangunan fasilitas publik berjalan sesuai kebutuhan dan aspirasi masyarakat Sukajadi.
(Tim Redaksi)



Komentar