Republikbersuara.com, Batam – Aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa di Kota Batam pada Senin (1/9/2025) tidak berjalan sesuai rencana. Gerakan yang awalnya disusun sebagai aksi besar oleh sejumlah organisasi mahasiswa justru berakhir dengan kekecewaan, karena jumlah massa yang hadir sangat sedikit dan terjadi dugaan perpecahan di internal koordinator aksi.
Dari informasi yang dihimpun Republikbersuara.com, aksi tersebut mulanya direncanakan melibatkan lima hingga enam organisasi mahasiswa di Batam yang akan menjadi penanggung jawab bersama. Namun, saat pelaksanaan, hanya dua organisasi yang benar-benar turun ke lapangan, yaitu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kerakyatan Sumatra dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Batam. Akibatnya, jumlah peserta aksi yang hadir di titik kumpul sejak pukul 19.30 WIB hanya sekitar 15 orang, dan yang benar-benar bertahan hingga depan Gedung DPRD Kota Batam hanya 13 mahasiswa.
Dinamika Internal dan Dugaan Intervensi
Muryadi, perwakilan dari BEM Kerakyatan Sumatra, menyatakan rasa kecewanya terhadap situasi ini. Ia menuding bahwa sejumlah organisasi yang sebelumnya sudah menyatakan komitmen, justru mengundurkan diri tanpa penjelasan jelas.
“Gerakan ini awalnya terorganisir dengan baik. Namun di tengah jalan, koordinator aksi ditinggalkan begitu saja oleh pihak-pihak yang seharusnya berdiri bersama. Kami merasa ada upaya yang sengaja dilakukan untuk memecah belah gerakan ini,” ungkap Muryadi.
Senada dengan itu, Andri Syahputra dari HMI Batam juga mengaku kecewa. Menurutnya, selain faktor internal, ada indikasi intervensi dari pihak eksternal, baik dari aparat maupun senior mahasiswa, yang membuat aksi tidak maksimal.
“Kami bahkan diminta untuk tidak melakukan orasi. Padahal orasi adalah bagian dari ekspresi perjuangan mahasiswa. Kami tetap kooperatif, hadir di lokasi, menunggu, tapi pihak yang seharusnya menemui kami justru tidak kunjung datang,” tegas Andri.
Situasi ini memperkuat dugaan bahwa ada strategi tertentu untuk meredam eskalasi aksi mahasiswa di Batam, terutama mengingat gelombang demonstrasi juga terjadi di berbagai kota lain di Indonesia pada waktu yang sama.
Pertemuan dengan Forkopimda
Meski jumlah massa sangat terbatas, aksi tersebut tetap berlangsung tertib dan mendapat atensi dari jajaran pemerintah daerah maupun unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, secara langsung menemui para mahasiswa dan menyampaikan apresiasi atas cara mereka menyuarakan aspirasi.
“Alhamdulillah, di tengah eskalasi aksi mahasiswa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, Batam tetap kondusif. Saya ingin berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa karena telah menyampaikan aspirasi dengan tertib. Ini bentuk nyata dari kebebasan berekspresi yang sehat dalam demokrasi kita,” ujar Amsakar.
Dalam kesempatan itu, Amsakar juga menyebut mahasiswa sebagai makhluk yang berani memakai atribut yang maha kuasa, sebuah ungkapan yang menggambarkan keberanian mahasiswa dalam berpikir kritis, menganalisis keadaan, dan menyuarakan kepentingan rakyat. Pernyataan ini disambut tepuk tangan para mahasiswa yang hadir, menandakan adanya penghargaan moral dari pemerintah terhadap gerakan mereka, meski jumlahnya minim.
Pertemuan mahasiswa dengan Forkopimda berlangsung di ruang serbaguna DPRD Kota Batam. Hadir pula sejumlah pejabat penting, di antaranya Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin, dan Panglima Komando Daerah Angkatan Laut IV Laksamana Muda TNI Berkat Widjanarko. Forum ini berjalan dengan suasana dialogis, di mana mahasiswa menyampaikan keresahan mereka, sementara pemerintah dan aparat menegaskan komitmen untuk menjaga ruang demokrasi tetap terbuka.
(jim)


Komentar