Republikbersuara.com, Batam – Aparat gabungan dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam bersama Polda Kepri terus memburu pemilik mobil mewah jenis Alphard yang diduga berkaitan dengan aktivitas markas judi online (judol) dan scamming yang digerebek di Apartemen Baloi View Apatel pada Rabu (6/5/2026) pagi.
Mobil tersebut disebut-sebut milik pihak yang bertanggung jawab dalam aktivitas jaringan love scamming, phishing e-commerce, hingga judi online yang diduga dikendalikan dari apartemen tersebut.
Saat konferensi pers di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam, Jumat (8/5/2026) siang, Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko menegaskan pihaknya akan menelusuri keberadaan pemilik mobil Alphard yang ramai disebut dalam pemberitaan media.
“Kita akan kejar siapa pemilik mobil Alphard yang disebut-sebut dalam pemberitaan di media terkait aktivitas markas judol dan scamming,” ujar Hendarsam kepada awak media.
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Kepri Asep Safrudin menegaskan pihaknya akan mengusut dugaan keterlibatan oknum anggota Polri dalam pengawalan jaringan tersebut.
“Akan diusut tuntas anggotanya yang terlibat dalam pengawalan sindikat,” tegas Asep.
Menurutnya, aparat yang diduga terlibat disebut kerap mendampingi seorang pria berinisial A saat beraktivitas di Batam. Sosok tersebut diketahui merupakan warga Tanjungpinang dan diduga menjadi otak jaringan kejahatan digital tersebut.
“Yang menjadi otak jaringan ini saat ini sedang ditelusuri dan kita kejar,” pungkasnya.
Sebelumnya, aparat gabungan dari Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam bersama personel Subdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Kepri mulai membuka tabir dugaan kejahatan digital yang beroperasi di Apartemen Baloi View Apatel.
Puluhan unit komputer dan laptop yang diamankan saat penggerebekan disebut bakal diperiksa secara mendalam guna mengungkap dugaan aktivitas judi online hingga penipuan daring (scamming) yang diduga dikendalikan dari dalam apartemen tersebut.
Dari data yang dihimpun, total terdapat 210 warga negara asing (WNA) yang diamankan. Sebanyak 84 WNA asal China terdiri dari 78 laki-laki dan 6 perempuan. Kemudian 125 WNA asal Vietnam terdiri dari 85 laki-laki dan 40 perempuan. Sementara satu orang lainnya merupakan perempuan asal Myanmar.
Secara keseluruhan, jumlah laki-laki mencapai 163 orang dan perempuan sebanyak 47 orang.
Informasi yang berkembang menyebutkan dua sosok berinisial AL dan WL diduga memiliki peran penting dalam aktivitas tersebut. Keduanya disebut berasal dari Tanjungpinang dan Batam serta diduga memiliki pengalaman menjalankan operasi serupa di Kamboja.
(jim)


Komentar