Republikbersuara.com, Batam – Proyek rekonstruksi Jalan Gajah Mada yang dikerjakan Badan Pengusahaan (BP) Batam justru menuai gelombang keluhan dari masyarakat. Alih-alih memperlancar mobilitas, pekerjaan yang dilakukan saat aktivitas sekolah dan jam sibuk dinilai memicu kemacetan parah hingga membuat ribuan pengguna jalan terjebak antrean panjang setiap hari.
Kemacetan terpantau mengular dari kawasan Tiban Centre hingga Flyover Sei Ladi dengan panjang diperkirakan mencapai dua hingga tiga kilometer. Kondisi tersebut terjadi sejak pekerjaan dimulai pada 25 Juli 2026 dan semakin terasa ketika aktivitas sekolah kembali normal pada 27 Juli 2026.
Warga menilai waktu pelaksanaan proyek tidak tepat karena dilakukan saat arus kendaraan sedang padat, terutama pada jam berangkat sekolah dan bekerja.
Muhammad Fendi, warga Tiban Koperasi yang setiap hari melintasi Jalan Gajah Mada, mengaku kecewa dengan pelaksanaan proyek tersebut. Menurutnya, pemerintah seharusnya memanfaatkan masa libur sekolah agar dampaknya terhadap masyarakat tidak terlalu besar.
“Perbaikan jalan itu seharusnya dilakukan saat libur sekolah. Jadi tidak terlalu menimbulkan kemacetan panjang. Ini justru setelah sekolah masuk, hasilnya amburadul, macet setiap hari,” ujar Fendi, Selasa (28/7/2026).
Ia menilai Jalan Gajah Mada merupakan jalur vital yang menjadi akses utama masyarakat dari kawasan Tiban menuju Batam Centre, Nagoya, hingga Batuampar.
“Ini jalan utama. Seharusnya pemerintah mempertimbangkan dampaknya sebelum pekerjaan dimulai,” tegasnya.
Fendi juga menyoroti lokasi proyek yang berada di kawasan padat aktivitas pendidikan, di antaranya Universitas Internasional Batam (UIB) dan sejumlah sekolah.
“Di sini ada kampus UIB, ada Sekolah Kartini. Banyak orang tua mengantar anak menggunakan kendaraan pribadi. Harusnya kondisi seperti ini sudah diperhitungkan sejak awal,” katanya.
Selain menyita waktu masyarakat, kemacetan juga dinilai menimbulkan kerugian ekonomi akibat meningkatnya konsumsi bahan bakar kendaraan.
“Yang dirugikan masyarakat. Waktu habis di jalan, BBM juga jadi boros,” tambahnya.
Sebelumnya, BP Batam mengumumkan pelaksanaan rekonstruksi Jalan Gajah Mada pada ruas Pura Agung Amerta Bhuana hingga Taman Kota yang dimulai sejak 25 Juli 2026 dengan estimasi pengerjaan selama empat minggu, bergantung pada kondisi cuaca.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menjelaskan bahwa pekerjaan tersebut bukan sekadar penambalan, melainkan rekonstruksi menyeluruh yang meliputi pembongkaran beton rusak, perbaikan dan pemadatan lapis pondasi, pengecoran beton bertulang, hingga pengaspalan ulang.
“Kami memilih melakukan rekonstruksi secara menyeluruh pada titik-titik yang mengalami kerusakan agar hasilnya lebih kuat dan memiliki umur layanan yang lebih panjang. Langkah ini merupakan investasi untuk meningkatkan kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik,” ujar Ariastuty.
Selama pekerjaan berlangsung, BP Batam menerapkan rekayasa lalu lintas secara bertahap. Pada tahap pertama, ruas jalan di depan UIB menuju Taman Kota arah Nagoya ditutup sementara dan arus kendaraan dialihkan melalui Flyover Sei Ladi menuju Flyover Laluan Madani.
Selanjutnya, pekerjaan akan berpindah ke sisi jalan lainnya dengan penutupan satu lajur sehingga arus kendaraan tetap dapat berjalan di bawah pengaturan petugas.
BP Batam juga menyatakan bahwa rekayasa lalu lintas akan terus dievaluasi bersama Satuan Lalu Lintas Polresta Barelang.
“Pengaturan lalu lintas akan dievaluasi secara berkala. Apabila diperlukan penyesuaian untuk menjaga kelancaran arus kendaraan maupun keselamatan pengguna jalan, maka rekayasa akan disesuaikan berdasarkan rekomendasi petugas di lapangan,” pungkas Ariastuty.
(Tim Redaksi)














Komentar