Republikbersuara.com, Batam – Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga besar korban tragedi ledakan kapal tanker MT Federal II milik PT ASL Marine Shipyard di Tanjunguncang, Batam. Fikri Krisnawan (23), salah satu pekerja yang sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Elisabeth Sagulung, akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Selasa (28/10/2025) malam. Dengan kepergian Fikri, jumlah korban jiwa akibat insiden maut tersebut bertambah menjadi 14 orang.
Kapolsek Batu Aji, AKP Raden Bimo Dwi Lambang, membenarkan kabar duka tersebut. Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini masih terdapat delapan korban lain yang tengah menjalani perawatan di beberapa rumah sakit di wilayah Batuaji.
“Korban terakhir atas nama Fikri Krisnawan dinyatakan meninggal dunia di RS Elisabeth. Sementara beberapa korban lainnya masih menjalani perawatan di RS Graha Hermine dan RS Mutiara Aini,” jelas AKP Bimo kepada awak media.
Hasil pantauan tim di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar korban mengalami luka bakar serius akibat ledakan besar yang terjadi di lambung kapal MT Federal II saat proses pengerjaan perbaikan berlangsung. Ledakan tersebut disebut berasal dari percikan api yang memicu uap bahan bakar di ruang tangki, sehingga menimbulkan kobaran api yang sulit dikendalikan.
Sementara itu dari pihak RS Graha Hermine, Humas rumah sakit Fitri menjelaskan kondisi terkini para korban yang masih dirawat. “Saat ini terdapat lima pasien yang masih dalam perawatan di lantai III dan IV rumah sakit kami. Satu pasien atas nama Sodikin sudah diperbolehkan pulang setelah dinyatakan stabil dan telah menjalani terapi pasca trauma inhalasi,” ungkap Fitri melalui pesan singkat WhatsApp kepada Republikbersuara.com.
Lima pasien yang masih menjalani perawatan masing-masing adalah Ceni Sihombing dengan luka bakar 22,5 persen, Dani Darusman 45 persen, Krima Damadan 22,5 persen, Abd. Munir 13,5 persen, dan Dedi Supriadi 13,5 persen. Menurut Fitri, seluruh pasien tersebut masih dalam tahap pemulihan intensif dengan pemantauan ketat dari tim dokter bedah plastik dan luka bakar.
Hal senada juga ditegaskan Direktur RS Graha Hermine, dr. Fajri Israq, bahwa sebagian besar korban mengalami luka bakar sedang hingga berat yang memerlukan tindakan operasi berulang. “Rata-rata korban mengalami luka bakar di rentang 10 sampai 15 persen. Namun, ada satu pasien dengan luka bakar mencapai 48 persen dan saat ini masih dirawat di ruang ICU. Kami terus memantau perkembangan mereka setiap jam,” ujar dr. Fajri.
Di sisi lain, pihak manajemen PT ASL Marine Shipyard menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh atas tragedi yang menewaskan belasan pekerjanya itu. Seorang perwakilan manajemen, yang enggan disebutkan namanya, mengaku pihaknya tidak akan lari dari tanggung jawab hukum maupun moral.
“Ini adalah musibah besar bagi kami semua. Kami siap bertanggung jawab, bahkan jika konsekuensinya adalah pidana. Yang paling penting saat ini adalah memastikan seluruh korban dan keluarga mereka mendapatkan penanganan terbaik,” katanya dengan nada tegas.
Pihak perusahaan juga disebut tengah berkoordinasi dengan aparat kepolisian, Dinas Tenaga Kerja, serta pihak rumah sakit untuk memastikan proses penyelidikan berjalan transparan dan bantuan kepada keluarga korban tersalurkan tepat waktu.
Sampai berita ini diturunkan, tim penyidik gabungan dari Polresta Barelang dan Subdit 3 Jatanras Ditreskrimum Polda Kepri masih terus melakukan pendalaman terkait penyebab pasti terjadinya ledakan. Dugaan sementara mengarah pada kelalaian prosedur keselamatan kerja (K3) saat proses hot work berlangsung di area tangki bahan bakar kapal.
(jim)



Komentar