Republikbersuara.com, Batam – Tanpa tedeng aling-aling, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Batam akhirnya membuka pelanggaran serius yang menyeret oknum internal berinisial JS, seorang Asisten Supervisor di Pelabuhan Batam Centre.
Kasus ini mencuat setelah media asing asal Singapura, Mothership, mempublikasikan dugaan praktik pemerasan terhadap warga negara asing (WNA) yang terjadi pada 13 dan 14 April. Namun, pemberitaan tersebut baru muncul sekitar 10 hari kemudian, tepatnya pada 25 April.
Kepala Kantor Wilayah Ditjen Imigrasi Kepulauan Riau, Ujo Sujoto, mengungkapkan bahwa pihaknya langsung bergerak melakukan investigasi internal begitu informasi tersebut mencuat.
“Sejak awal kami menghadapi kendala serius. Data yang disampaikan dalam pemberitaan sangat minim, hanya mencantumkan inisial ‘AC’ dan ‘A’, sehingga menyulitkan proses identifikasi,” ujar Ujo kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).
Menurutnya, pihak Imigrasi bahkan telah berupaya aktif menghubungi media tersebut melalui pesan langsung (direct message) guna meminta data tambahan. Namun hingga kini, tidak ada respons yang diterima.
Meski demikian, investigasi tetap berjalan atas arahan langsung pimpinan pusat, termasuk Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Wakil Menteri, hingga Direktur Jenderal Imigrasi.
“Penelusuran kami lakukan melalui sistem data perlintasan dan rekaman CCTV di pelabuhan,” tegasnya.
Dari hasil penelusuran, ditemukan bahwa jumlah warga negara Singapura berinisial “AC” pada tanggal kejadian mencapai ratusan orang, sehingga sulit ditentukan secara spesifik tanpa data tambahan.
Namun, perkembangan penting terungkap saat tim menemukan sosok berinisial “NAY” pada 14 April.
“Yang bersangkutan ternyata bukan warga negara Singapura, melainkan warga negara Myanmar,” jelas Ujo.
Pendalaman melalui CCTV di Pelabuhan Batam Centre juga mengonfirmasi bahwa NAY benar melakukan perlintasan di Batam pada waktu tersebut.
Pihak Imigrasi menegaskan tidak akan menutup-nutupi kasus ini.
“Kami berkomitmen penuh melakukan pembenahan. Kami juga menyampaikan rasa kecewa dan prihatin atas kejadian ini. Ini menjadi evaluasi besar bagi kami untuk memperkuat integritas dan pengawasan,” tutup Ujo.
(Tim Redaksi)


Komentar