Advertisement
Batam
Beranda » Strategi Pengusaha THM Batam, Racuni Budaya Kearifan Lokal Sajikan “Tarian Erotis” Demi Meraup Keuntungan

Strategi Pengusaha THM Batam, Racuni Budaya Kearifan Lokal Sajikan “Tarian Erotis” Demi Meraup Keuntungan

Republikbersuara.com, Batam – Kota Batam yang selama ini dikenal sebagai kota dengan identitas kuat “Melayu Islam”  kini dinilai mulai kehilangan arah budaya akibat masuknya berbagai pengaruh luar yang bersifat destruktif terhadap kearifan lokal. Salah satu fenomena yang disorot adalah maraknya pertunjukan “tarian erotis” di sejumlah Tempat Hiburan Malam (THM) yang diduga dijadikan strategi bisnis para pengusaha Batam untuk menarik minat pengunjung dan mendulang keuntungan besar, tanpa memperhatikan dampak sosial dan budaya terhadap masyarakat setempat.

Sebagai wilayah yang sejak lama menjunjung tinggi nilai-nilai Melayu dan ajaran Islam, Batam memiliki fondasi moral yang menekankan kesopanan, tata krama, serta penghormatan terhadap adat istiadat. Dalam falsafah Melayu dikenal pepatah, “Biar mati anak, jangan mati adat,” yang menandakan betapa tinggi nilai budaya dijaga oleh masyarakatnya. Namun, kondisi ini kini kian tergerus oleh pesatnya pembangunan sektor hiburan yang membawa serta budaya hedonisme dan perilaku permisif yang bertentangan dengan identitas lokal.

Beberapa lokasi hiburan yang menjadi sorotan masyarakat antara lain F1 Club di Planet Holiday, First Club, Square, Pasific, hingga sejumlah tempat hiburan di kawasan Nagoya. Di beberapa lokasi tersebut, hiburan malam yang seharusnya bersifat rekreatif justru berubah menjadi tontonan vulgar dengan menampilkan tarian erotis atau penampilan sensual yang dinilai tidak sejalan dengan norma kesusilaan dan budaya Melayu Islam. Aktivitas semacam ini dinilai menjadi bentuk “peracunan budaya” yang secara perlahan mengikis moral masyarakat dan mengubah persepsi generasi muda terhadap nilai kesopanan.

Salah satu tokoh masyarakat Melayu di Batam, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan bahwa fenomena ini mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah daerah terhadap izin dan aktivitas THM. “Kalau dibiarkan, Batam bukan lagi dikenal sebagai kota Melayu Islam, tapi kota hiburan malam. Ini bukan warisan budaya yang ingin kita tinggalkan untuk anak cucu,” ujarnya dengan nada prihatin.

Pengaruh negatif dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada aspek moral dan budaya, tetapi juga dapat menimbulkan dampak sosial yang luas. Meningkatnya pergaulan bebas, tindak asusila, hingga potensi kriminalitas sering kali berawal dari tempat hiburan malam yang dikelola tanpa etika dan pengawasan ketat. Para pengusaha THM dinilai lebih fokus mengejar keuntungan ekonomi tanpa memperhatikan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat Batam yang mayoritas masih menjunjung nilai-nilai religius.

JANJI PALSU SPRINDIK Tewasnya Al Fatih Usnan MANDEK 4 BULAN, Komisi I DPRD Batam Tagih Kompol M. Debby Andrestian

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Ardiwinata, Ketua MUI Batam KH. Luqman Rifai, serta Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam YM Dato’ Wira Setia Utama Raja Haji Muhammad Amin belum memberikan tanggapan atas pertanyaan Republikbersuara.com terkait maraknya praktik tarian erotis di sejumlah tempat hiburan. Publik berharap para pemangku kepentingan tersebut segera mengambil sikap tegas untuk melindungi marwah budaya Melayu dan menjaga citra Batam sebagai kota beridentitas religius dan beradab.

Masyarakat adat, tokoh agama, dan organisasi budaya pun mulai menyerukan agar pemerintah meninjau ulang izin operasional tempat hiburan malam yang terbukti melanggar norma kesusilaan. Mereka menilai bahwa membiarkan budaya semacam ini berkembang sama saja dengan membuka pintu bagi degradasi moral yang akan sulit dikendalikan di masa depan.

“Batam bukan Bali,” ujar warga Batam lainnya. “Kita tidak menolak wisata, tapi wisata yang sesuai dengan nilai Melayu dan Islam. Jangan korbankan jati diri hanya demi uang.”

Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah, pengusaha, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya. Sebab, ketika nilai-nilai luhur kearifan lokal tergerus demi keuntungan sesaat, maka yang hilang bukan hanya identitas Batam, tetapi juga warisan moral yang selama ini menjadi benteng peradaban Melayu.

(Tim Redaksi)

Penyidik Polsek Batu Aji PERIKSA 4 SAKSI Termasuk Dokter Terkait TEWASNYA ZAINUDDIN Pekerja PT Amnor Shipyard

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement