Advertisement
Batam Kriminal Peristiwa
Beranda » Kasus Pengeroyokan Jurnalis Fransisco Chrons di VG Club Hotel Pacific Palace “ TERKESAN MALAS DITANGANI POLSEK BATU AMPAR

Kasus Pengeroyokan Jurnalis Fransisco Chrons di VG Club Hotel Pacific Palace “ TERKESAN MALAS DITANGANI POLSEK BATU AMPAR

Republikbersuara.com, Batam – Penanganan kasus dugaan penganiayaan dan pengeroyokan terhadap seorang jurnalis di Batam, Fransisco Chrons, menuai sorotan tajam dari kalangan pers dan publik. Insiden kekerasan yang diduga dilakukan oleh sejumlah petugas keamanan (sekuriti) VG Executive Music yang beroperasi di lingkungan Hotel Pacific Palace, Batam, hingga kini dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan. Polsek Batu Ampar bahkan disebut meminta waktu hingga tiga hari dan terkesan “ malas “ untuk melakukan penangkapan terhadap para terduga pelaku.

Informasi tersebut disampaikan oleh salah seorang jurnalis kepada Republikbersuara.com, Senin (15/12/2025) sore. Pernyataan itu memicu pertanyaan serius, mengingat peristiwa pengeroyokan terjadi di ruang publik, disaksikan banyak orang, serta diduga melibatkan pihak sekuriti yang identitasnya semestinya mudah dilacak.

“Polsek Batu Ampar meminta waktu tiga hari untuk menangkap para pelaku,” ujar jurnalis tersebut, seraya menyayangkan lambannya respons aparat penegak hukum terhadap kasus yang menyangkut kekerasan terhadap insan pers.

Sebelumnya, berdasarkan keterangan korban, insiden bermula saat Fransisco Chrons tengah duduk santai di dalam area VG Executive Music Club pada Sabtu (13/12/2025) dini hari. Tanpa sebab yang jelas, seorang pria yang tidak dikenalnya tiba-tiba mendekat dan mengarahkan kamera ponsel ke wajah korban sambil menyalakan lampu flash, seolah merekam atau memprovokasi.

Merasa privasinya terganggu dan tindakan tersebut tidak sopan, Fransisco mengaku menegur pria tersebut secara wajar. Ia bahkan sempat melemparkan tisu kecil sebagai bentuk peringatan agar aksi perekaman dihentikan. Namun, teguran tersebut tidak diindahkan dan justru berujung pada eskalasi konflik.

Menunggu Giliran “ DUDUK di KURSI PANAS “ Subdit II Ditreskrimum Polda Kepri PANGGIL Li Xin Cs Terkait Konflik Bisnis PT JAJ vs PT CCYR

Pria yang merekam itu diduga melaporkan Fransisco kepada petugas keamanan klub. Tak lama berselang, sejumlah sekuriti datang menghampiri korban dengan sikap emosional dan agresif.

“Saya langsung dicekik oleh salah satu sekuriti. Saya berusaha melepaskan diri karena merasa terancam dan kesulitan bernapas,” ungkap Fransisco kepada wartawan.

Situasi tidak berhenti di dalam klub. Dalam kondisi tertekan, Fransisco dipaksa keluar dari area VG Club oleh petugas keamanan. Namun, setibanya di depan pintu masuk klub, ia kembali menjadi sasaran kekerasan.

Menurut pengakuan korban, sedikitnya dua orang sekuriti secara bersamaan melakukan pemukulan dan tendangan ke arah tubuh dan wajahnya. Aksi tersebut diduga disaksikan oleh sejumlah pengunjung yang berada di sekitar lokasi.

“Saya dipukul dan ditendang. Serangan mengarah ke wajah, rahang, dan bagian tubuh lain. Bahkan lebih dari dua orang sekuriti ikut mengeroyok,” jelasnya.

Usai OGAH BICARA, Manajemen PT ALS Supindo Construction Akhirnya BUKA SUARA Soal Laka Kerja Gio

Akibat pengeroyokan tersebut, Fransisco mengalami luka memar di beberapa bagian tubuh, terutama di wajah, pelipis, dan rahang. Luka-luka tersebut diduga kuat merupakan hasil kekerasan fisik yang dilakukan secara bersama-sama.

Atas kejadian itu, Fransisco Chrons secara resmi melaporkan insiden yang dialaminya ke pihak kepolisian. Laporan tersebut tercatat dengan Nomor Laporan Polisi: LP B/151/XII/2025/SPKT/Polsek Batu Ampar/Polresta Barelang/Polda Kepulauan Riau.

Namun hingga berita ini diterbitkan, belum terlihat adanya penetapan tersangka maupun tindakan tegas terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa penanganan kasus berjalan lambat, terlebih mengingat korban adalah seorang jurnalis yang sedang menjalankan aktivitasnya sebagai warga sipil.

Kasus ini juga menambah daftar panjang dugaan kekerasan terhadap jurnalis di Batam dan Kepulauan Riau, yang kerap mendapat sorotan dari komunitas pers dan organisasi kebebasan pers. Banyak pihak menilai, lambannya penanganan aparat dapat mencederai rasa keadilan serta memberi preseden buruk bagi perlindungan jurnalis di lapangan.

Sampai saat ini, pihak manajemen VG Executive Music maupun Hotel Pacific Palace belum memberikan keterangan resmi atau klarifikasi terkait dugaan penganiayaan tersebut. Sikap diam ini semakin memicu pertanyaan publik mengenai tanggung jawab pengelola tempat hiburan dan hotel terhadap tindakan aparat keamanan internal mereka.

OGAH BICARA Manajemen PT ALS Supindo Construction Diduga Lepas Tanggung Jawab atas Laka Kerja Helper GIO

Publik dan insan pers berharap aparat kepolisian bertindak profesional, transparan, dan cepat dalam mengusut tuntas kasus ini. Penegakan hukum yang tegas dinilai penting, tidak hanya untuk memberikan keadilan bagi korban, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan terhadap kebebasan pers dan hak asasi manusia.

(jim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement