Republikbersuara.com, Batam – Ketua Jaringan Safe Migran Batam, Romo Chrisanctus Paschalis Saturnus atau Romo Paskal, mengecam keras sikap Kapolsek Batu Ampar, Kompol Amru Abdullah, terkait konferensi pers penanganan kasus pembunuhan Dwi Putri Aprilian Dini (25), wanita asal Lampung yang bekerja sebagai Ladies Companion (LC) beberapa hari lalu
Korban tewas akibat penganiayaan yang dilakukan oleh Wilson Lukman, dibantu pasangan kumpul kebonya Anik Istiqomah Noviana alias Meylika Levana alias Mami, serta dua koordinator agensi MK, Putri Eangelina Binti Yusrizal alias Papi Tama dan Salmiati Binti Bacok alias Papi Charles.
Romo Paskal: Kapolsek Batu Ampar CARI MUKA kepada Kapolda Kepri
Kepada Republikbersuara.com, Jumat (5/12/2025) sore, Romo Paskal menilai bahwa sikap Kapolsek Batu Ampar dalam konferensi pers beberapa hari lalu terlalu terkesan berada di depan sendiri dan tidak mencerminkan koordinasi internal Polri.
“Polri bekerja berdasarkan koordinasi dan integritas kolektif, bukan untuk kepentingan pencitraan satu unit tertentu. Kapolsek Batu Ampar terlalu maju untuk tampil,” tegas Romo Paskal.
Peran Polsek Sagulung dan RS Elisabeth Diabaikan
Romo menegaskan bahwa Polsek Sagulung adalah unit pertama yang menerima laporan dari RS Elisabeth Sei Lekop dan langsung mendatangi lokasi, mencatat keterangan saksi, menyelamatkan barang bukti awal, dan memastikan jenazah tidak dilepas sebelum proses hukum.
Ia menambahkan bahwa RS Elisabeth Sei Lekop berperan signifikan dengan menahan pelepasan jenazah dan segera berkoordinasi dengan Polsek Sagulung.
Namun dalam konferensi pers Polsek Batu Ampar, Romo Paskal menyebut tidak ada penyebutan peran Polsek Sagulung maupun RS Elisabeth, seolah seluruh proses sejak awal ditangani sepenuhnya oleh Polsek Batu Ampar.
“Penyampaian seperti ini tidak hanya tidak akurat, tetapi juga menyesatkan publik, menghilangkan fakta penting, serta mencederai etika profesional antar-satuan dalam tubuh Polri,” kritik Romo.
Pencitraan Mengaburkan Kerja Personel
Romo menilai tindakan Kapolsek Batu Ampar sebagai upaya pencitraan yang mengabaikan kerja personel lain.
“Jangan cari muka sendiri dengan menutupi muka orang lain. Ini mengaburkan kerja nyata personel dan tidak sesuai standar profesional institusi,” tegasnya.
(jim)



Komentar