Republikbersuara.com, Batam – Suasana panas mewarnai hubungan antara seorang pengusaha hiburan malam ternama di Batam dengan jajaran Polda Kepri, setelah kemarahan Direktur Ditresnarkoba Polda Kepri, Kombes Pol Anggoro Wicaksono, meledak pada Kamis (30/10/2025) sore.
Informasi yang diperoleh Republikbersuara.com menyebutkan, emosi perwira menengah Polri itu memuncak usai munculnya pemberitaan terkait operasi Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri yang sebelumnya berhasil meringkus dua pegawai salah satu tempat hiburan malam (THM) di kawasan Nagoya, serta menetapkan satu orang lainnya sebagai daftar pencarian orang (DPO).
Menurut sumber internal yang enggan disebutkan namanya, Kombes Anggoro merasa pemberitaan tersebut dapat mengganggu kredibilitas dan posisi jabatannya, terlebih saat kasus itu masih dalam tahap pengembangan dan menjadi perhatian publik. “Beliau marah besar dan menegur saya dengan nada tinggi. Bahkan berkali-kali menelepon agar pemberitaan itu tidak dilanjutkan,” ujar pengusaha tersebut dengan nada berat kepada Republikbersuara.com.
Sumber itu juga menambahkan bahwa teguran keras dari perwira berpangkat tiga melati tersebut terjadi setelah pemberitaan edisi Kamis pagi terbit dan menjadi pembicaraan hangat di kalangan pengusaha serta aparat penegak hukum di Batam. Disebutkan, pengusaha tersebut merasa tertekan atas sikap emosional sang perwira yang menilai publikasi itu dapat memicu spekulasi baru tentang keterlibatan pihak-pihak tertentu dalam kasus narkotika yang tengah diusut.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak Polda Kepri belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Beberapa sumber di lingkungan kepolisian menyebutkan, Ditresnarkoba Polda Kepri saat ini tengah fokus melakukan penyelidikan lanjutan terhadap jaringan peredaran narkoba yang diduga melibatkan oknum pekerja di sejumlah tempat hiburan malam di Batam.
Situasi ini menjadi sorotan tajam publik karena dianggap mencerminkan ketegangan antara aparat penegak hukum dan pengusaha hiburan di Batam. Banyak pihak menilai, komunikasi yang tidak kondusif antara pihak kepolisian dan dunia usaha justru dapat menimbulkan kesalahpahaman dan memperkeruh citra penegakan hukum di mata masyarakat.
(Tim Redaksi)



Komentar