Republikbersuara.com, Batam – Darah kembali tumpah di Jembatan 3 Setokok. Dua orang, Edi dan Heri, tewas dalam bentrokan antarkelompok yang juga menyebabkan puluhan orang menjadi korban.
Yang kini menjadi sorotan bukan hanya bentrokan yang pecah, tetapi apa yang terjadi sebelum bentrokan berdarah itu meledak.
Informasi yang beredar menyebut massa dari dua kelompok telah berkumpul. Sejumlah senjata seperti tombak, parang dan senapan angin juga disebut telah dipersiapkan.
Situasi tersebut disebut telah diketahui aparat keamanan. Namun, bentrokan tetap pecah hingga menelan korban jiwa.
Publik pun mempertanyakan, mengapa potensi bentrokan tidak berhasil dihentikan sebelum berubah menjadi tragedi berdarah?
Sorotan semakin menguat setelah warga mempertanyakan langkah pengamanan di lokasi, termasuk mengapa tidak ada tindakan pencegahan yang dinilai cukup dan pembiaran oleh aparat untuk membubarkan massa sebelum kekerasan terjadi.
“Mereka (pihak keamanan) sudah tahu akan ada bentrokan. Mereka juga tahu sudah ada yang membawa senjata buat perang dan massa sudah berkumpul. Apakah ini ada pembiaran yang disengaja?” ujar Samsudin, seorang warga, kepada Republikbersuara.com, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, jatuhnya korban jiwa seharusnya dapat dicegah apabila potensi bentrokan ditangani sejak awal.
“Apakah ini sengaja dibiarkan? Kami minta Kompolnas segera turun ke Batam,” tegas Samsudin.
Kini, tragedi Setokok menyisakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari pihak kepolisian: sejauh mana aparat mengetahui potensi bentrokan, tindakan apa yang telah dilakukan sebelum massa terlibat kekerasan, dan mengapa bentrokan tetap pecah meski situasi disebut sudah terdeteksi?
Publik menunggu penjelasan resmi agar rangkaian peristiwa sebelum dan saat bentrokan Jembatan 3 Setokok dapat terungkap secara terang.
(Tim Redaksi)


































Komentar