Republikbersuara.com, Batam – Misteri kematian beruntun dua warga negara asing (WNA) asal Singapura di Tower 2 Bluhen, Apartemen Meisterstadt Pollux Habibie, Batam Centre, mulai menjadi perhatian publik.
Terbaru, seorang WNA Singapura berinisial LTG ditemukan meninggal dunia di salah satu unit lantai 53 Tower 2 Bluhen pada Senin (8/6/2026) sekitar pukul 00.09 WIB.
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan Republikbersuara.com, sejumlah penghuni dan sumber di lokasi menyoroti kondisi sistem ventilasi udara gedung yang disebut-sebut kurang optimal. Dugaan tersebut mencuat karena sebelumnya seorang WNA Singapura lainnya juga ditemukan meninggal dunia di kawasan apartemen yang sama dalam rentang waktu berdekatan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang yang menyatakan adanya hubungan antara sistem ventilasi dengan penyebab kematian korban.
Proses evakuasi jenazah turut diwarnai ketegangan antara awak media dan petugas keamanan apartemen. Sejumlah personel keamanan dari PT Care Guard yang bertugas di kawasan Meisterstadt Pollux Habibie membatasi akses peliputan saat proses evakuasi berlangsung.
Di lokasi sempat terjadi adu mulut hingga aksi saling dorong antara beberapa wartawan dan petugas keamanan ketika jurnalis berupaya memperoleh informasi terkait proses evakuasi korban.
Pihak keamanan beralasan pembatasan dilakukan untuk menjaga privasi penghuni apartemen. Namun, sikap tersebut memicu keberatan dari sejumlah wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena hanya berselang beberapa hari setelah ditemukannya seorang WNA lansia asal Singapura meninggal dunia di kawasan apartemen yang sama pada Kamis (4/6/2026).
Sementara itu, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa pada Senin malam kembali ditemukan seorang wanita WNA Singapura berinisial L, kelahiran tahun 1967, meninggal dunia di salah satu unit lantai 38 Tower 2 Bluhen.
Penemuan dua jenazah WNA Singapura dalam waktu berdekatan di lokasi yang sama memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat terkait kondisi bangunan maupun faktor lain yang menyebabkan kematian para korban.
“Kami hanya menjalankan tugas jurnalistik untuk memperoleh informasi yang akurat. Pembatasan yang terlalu ketat justru menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat,” ujar salah seorang wartawan yang berada di lokasi.
Menjelang tengah malam, jenazah korban akhirnya dievakuasi melalui jalur pintu darurat dan dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Batam guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan pihak berwenang. Aparat kepolisian juga masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut.
Sementara itu, pihak pengelola Apartemen Meisterstadt Pollux Habibie, yakni PT Pollux Barelang Megasuperblok dan PT Pollux Properti Indonesia Tbk, belum memberikan keterangan resmi terkait dua peristiwa kematian yang terjadi di kawasan apartemen tersebut.
(jim)



Komentar