Republikbersuara.com, Batam – TPU Sei Temiang berubah jadi lautan duka. Tangis histeris pecah, suasana mencekam sekaligus pilu saat Bripda Natanael Simanungkalit akhirnya dimakamkan, Kamis (16/4/2026) siang.
Langit seakan ikut muram. Jerit keluarga tak terbendung saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat. Nama almarhum terus dipanggil, seolah tak rela melepas kepergian sosok muda yang disebut-sebut sebagai “putra terbaik”.
Bripda Natanael, anak dari Royamser Simanungkalit dan Rosdewi Br. Napitupulu, kini terbaring kaku di kavling Nasrani. Dari rumah duka hingga ke pemakaman, ribuan pasang mata menyaksikan iring-iringan penuh luka ini.
Deru ambulans mengiris suasana, memancing perhatian warga sepanjang jalan. Masyarakat berkerumun, sebagian terdiam, sebagian lagi tak kuasa menahan air mata menyaksikan akhir perjalanan hidup sang Bhayangkara muda.
Barisan anggota kepolisian tampak mengawal prosesi. Namun di balik itu, duka keluarga tetap tak terbendung. Isak tangis pecah berkali-kali, terutama saat tanah mulai menutup peti—momen yang membuat suasana benar-benar runtuh.
Karangan bunga berjejer panjang, seolah menjadi saksi bisu betapa besar kehilangan ini. Dari rumah hingga ke TPU, ucapan duka terus mengalir—namun tak mampu menggantikan sosok yang telah pergi untuk selamanya.
(jim)










Komentar