Republikbersuara.com, Batam – Gelap. Sunyi. Dan mematikan.
Di balik dinding asrama yang seharusnya melindungi, seorang anggota muda justru diduga meregang nyawa dalam kesakitan.
Bripda Natanael Simanungkalit.
Baru dilantik. Baru memulai pengabdian.
Namun hidupnya terhenti… di tempat yang seharusnya paling aman baginya.
Senin malam (13/4/2026), suasana berubah mencekam. Dugaan pengeroyokan oleh lima senior mencuat. Tubuh terkapar. Nyawa tak tertolong.
Apakah ini pembinaan… atau penyiksaan?
Apakah ini solidaritas… atau kekerasan yang dibungkus diam?
Tak ada rekaman resmi yang dibuka ke publik. Tak ada gambaran utuh. Yang ada hanya satu fakta dingin, seorang polisi muda telah tewas di dalam asrama.
Kepala Bidang Propam Polda Kepri, Eddwi Kurniyanto, menyatakan Kapolda Kepri Irjen Pol Asep Safrudin telah memerintahkan pengusutan tegas.
“Tidak ada toleransi sekecil apa pun,” katanya.
Namun di luar sana, publik seperti mendengar gema yang sama berulang kali.
Setiap kasus selalu “akan diusut”.
Setiap tragedi selalu “tidak ditolerir”.
Lalu… kenapa terus terjadi?
Jenazah korban kini berada di RS Bhayangkara untuk autopsi. Sementara fakta-fakta kunci masih terkunci: siapa, bagaimana, dan apa yang sebenarnya terjadi di malam itu.
Di media sosial, kemarahan membara.
Bukan hanya karena satu nyawa hilang
tapi karena rasa aman yang ikut mati bersamanya.
Jika benar ada kekerasan senior terhadap junior, maka ini bukan sekadar pelanggaran. Ini luka dalam yang membusuk di tubuh institusi.
Dan luka itu kini terbuka lebar.
Asrama yang seharusnya menjadi tempat istirahat—dipertanyakan, apakah ia berubah menjadi ruang tekanan? ruang intimidasi? bahkan… ruang ketakutan?
Tidak ada yang lebih ironis daripada seorang penegak hukum yang diduga tak aman di lingkungannya sendiri.
Kasus ini kini bukan hanya milik internal.
Ini sudah menjadi milik publik.
Dan satu hal yang pasti, jeritan yang tak terdengar malam itu… kini menggema ke mana-mana.
(jim)


Komentar