Republikbersuara.com, Batam – Pemandangan tak biasa terjadi di GOR Gemilang Polda Kepri, Sabtu (8/8/2026). Sosok kuntilanak, Kapten Amerika hingga Hulk tampak “bergentayangan” di arena olahraga.
Namun jangan salah sangka. Mereka bukan makhluk misterius yang tiba-tiba muncul di tengah malam, melainkan para perwira Bidpropam Polda Kepri yang sengaja mengenakan kostum superhero dalam rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kostum unik tersebut dikenakan dalam turnamen bulu tangkis yang digelar Bidpropam Polda Kepri khusus bagi personel internal.

Kabid Propam Polda Kepri Kombes Pol Eddwi Kurniyanto mengatakan, belasan superhero yang tampil di arena merupakan para perwira Bidpropam.
“Belasan superhero ini perwira kita, sengaja berpakaian seperti itu untuk ikut turnamen yang kami adakan,” ujar Eddwi.
Para perwira yang sehari-hari dikenal dengan wajah serius, sikap tegap, serta rutinitas kedinasan yang penuh disiplin, pagi itu tampil dengan wajah berbeda.
Seragam kedinasan berganti kostum karakter. Raut tegas berubah menjadi ekspresi kocak. GOR Gemilang yang biasanya menjadi tempat olahraga mendadak berubah seperti panggung hiburan.

Ada perwira yang harus menghidupkan karakter superhero dengan gaya dramatis. Ada yang memasang wajah sesangar mungkin. Bahkan, langkah kaki pun dibuat menyerupai tokoh yang diperankan.
Namun persoalan muncul ketika para superhero tersebut harus bertanding bulu tangkis.
Usai doa, sebanyak sembilan tim atau 18 perwira mulai bertanding. Raket berada di tangan, kok melayang di udara, sementara lawan berdiri di seberang net.
Jubah dan berbagai atribut superhero yang awalnya terlihat gagah ternyata tak selalu bersahabat dengan gerakan di lapangan.

Ada pemain yang harus mengejar kok sambil menahan jubah agar tidak mengganggu langkah. Ada yang melakukan smash dengan gerakan setengah canggung. Ada pula yang justru terlihat seperti sedang bertarung dengan kostumnya sendiri.
Tawa pun pecah.
Setiap kesalahan disambut gelak tawa. Setiap poin mendapat sorakan. Aksi nekat di tengah pertandingan justru mendapat tepuk tangan.
Lapangan bulu tangkis pagi itu akhirnya bukan sekadar tempat menentukan siapa yang menang dan kalah.
Di sana, para perwira diberi ruang untuk tertawa bersama, melepas sejenak suasana formal kedinasan, sekaligus mempererat kebersamaan.
“Kegiatan ini diselenggarakan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menghadirkan hiburan segar di tengah padatnya agenda kerja Bidpropam,” tutur Kombes Eddwi.
Menurutnya, kegiatan sengaja dikemas berbeda agar personel dapat menikmati suasana yang lebih santai di tengah rutinitas pekerjaan.
Perwira Wanita Main Benteng
Keseruan tidak berhenti di pertandingan bulu tangkis.
Di bagian lain arena, para perwira wanita juga ikut ambil bagian. Mereka tidak turun bertanding menggunakan raket, tetapi memainkan permainan tradisional “Benteng”.
Dua tim yang masing-masing terdiri dari empat perwira wanita saling berhadapan.
Tidak ada raket, kok, ataupun net. Yang ada hanya kecepatan kaki, strategi, keberanian dan kekompakan.
“Untuk perwira wanitanya memainkan permainan ‘Benteng’. Itu permainan waktu kita kecil dulu,” kata Eddwi.
Para peserta berlari mengejar lawan, saling menghindar dan memberikan aba-aba.
Sesekali strategi berantakan. Namun justru di situlah tawa kembali pecah.
Sorakan suporter memenuhi GOR.
Permainan masa kecil itu seakan membawa para perwira kembali ke masa ketika kebahagiaan tidak membutuhkan banyak hal.
Cukup sekelompok teman, sebuah lapangan dan permainan sederhana yang membuat semua orang berlari hingga kehabisan napas.
Bukan Sekadar Menang-Kalah
Bagi Bidpropam Polda Kepri, kegiatan tersebut bukan sekadar pertandingan olahraga.
Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI sekaligus momentum memperkuat kebersamaan dan silaturahmi antarpersonel.
Untuk pertama kalinya, olahraga, kostum karakter dan permainan tradisional dipadukan dalam satu rangkaian kegiatan di lingkungan Polda Kepri.
Hadiah pun disiapkan bagi juara pertama, kedua dan ketiga. Tak hanya kemampuan bertanding yang dihargai. Peserta dengan kostum paling menarik juga mendapatkan penghargaan khusus.
“Total hadiah Rp25 juta, untuk juara 1, 2 dan 3. Ada juga penilaian kostum terbaik,” tutur Kombes Eddwi.
Artinya, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh angka di papan skor.
Kreativitas dihitung. Keberanian tampil dihargai. Bahkan kemampuan membuat rekan kerja tertawa pun mendapat tempat.
Namun, jika ada sesuatu yang paling mahal dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, barangkali bukan hadiah Rp25 juta.
Melainkan suasana yang tercipta.
Ada tawa seorang perwira ketika gagal mengembalikan kok. Ada sorakan rekan kerja ketika pemain berjubah superhero berhasil mencetak angka. Ada pula wajah-wajah yang biasanya serius berubah penuh ekspresi.
Sebab pada akhirnya, sebuah organisasi bukan hanya tentang struktur, aturan dan tanggung jawab.
Di dalamnya ada manusia.
Manusia yang juga membutuhkan ruang untuk tertawa, bermain dan saling mengenal tanpa sekat kedinasan.
“Jadi acara ini kami adakan untuk sebuah perayaan kemerdekaan. Mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya,” tutup Kombes Eddwi.
(Tim Redaksi)
















Komentar