Advertisement
Batam Peristiwa
Beranda / Peristiwa / Pasir Laut Karimun Diduga Dipakai untuk Perumahan Bukit Kemuning, FRIC Kepri Gebrak Developer: Mana Hasil Uji Laboratoriumnya !

Pasir Laut Karimun Diduga Dipakai untuk Perumahan Bukit Kemuning, FRIC Kepri Gebrak Developer: Mana Hasil Uji Laboratoriumnya !

Republikbersuara.com, Batam – Tumpukan material yang disebut sebagai pasir laut asal Karimun di kawasan Bukit Kemuning, Batam, kini menyeret pertanyaan serius ke ranah konstruksi perumahan. Bukan lagi sekadar soal dari mana pasir itu berasal, siapa pemiliknya, dan untuk apa didatangkan, tetapi pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah material tersebut sudah diuji dan dinyatakan layak digunakan dalam pembangunan rumah?

Fast Respon Indonesia Center (FRIC) Kepri mendesak pihak developer maupun instansi terkait membuka secara terang hasil pengujian material tersebut. Jika pasir yang disebut berasal dari lingkungan laut itu benar digunakan sebagai bahan konstruksi atau material timbunan kawasan perumahan, publik berhak mengetahui spesifikasi teknisnya, peruntukannya, serta dokumen hasil uji laboratorium yang menjadi dasar penggunaannya.

Sebab, persoalannya bukan sekadar pasir terlihat bersih atau menyerupai material konstruksi. Ada pertanyaan tentang kadar klorida, gradasi, kandungan pengotor, kepadatan, daya dukung, metode pemadatan hingga potensi penurunan tanah. FRIC mengingatkan, jika material tidak memenuhi persyaratan teknis untuk fungsi yang direncanakan, persoalannya pada akhirnya dapat menyentuh kepentingan konsumen yang membeli dan menghuni rumah tersebut.

FRIC: Pasir Laut Bukan Otomatis Terlarang, Tapi Jangan Asal Dipakai

Hendri dari FRIC Kepri menegaskan, pihaknya tidak menyatakan bahwa seluruh pasir laut otomatis dilarang digunakan dalam konstruksi. Menurutnya, yang harus dijawab adalah apakah material yang berada di Bukit Kemuning tersebut telah memenuhi persyaratan teknis sesuai peruntukannya.

Setokok Makin Panas: MAJU GINTING Jadi Tersangka Keenam! Polisi Masih Kejar TERSANGKA LAIN

“Untuk apa pasir tersebut didatangkan ke Bukit Kemuning dan siapa pemilik materialnya? Lebih jauh lagi, apabila material itu digunakan sebagai bahan konstruksi, apakah sudah dilakukan pengujian laboratorium yang membuktikan bahwa material memenuhi persyaratan teknis sesuai fungsi penggunaannya?” tanya Hendri.

Menurut FRIC, jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi penting karena material yang berasal dari lingkungan laut memiliki karakteristik yang perlu diperiksa sebelum digunakan untuk fungsi konstruksi tertentu.

“Berapa kandungan kloridanya, bagaimana gradasinya, bagaimana kandungan pengotornya, apakah telah dicuci atau didesalinasi, dan adakah hasil laboratorium yang menyatakan material tersebut layak untuk fungsi konstruksi yang direncanakan? Di mana pencuciannya?” lanjut Hendri.

Jangan Sampai Konsumen Membayar Rumah, Tapi Menanggung Risikonya

FRIC menyoroti kemungkinan penggunaan material tersebut dalam pembangunan kawasan perumahan. Jika digunakan pada pekerjaan yang berkaitan dengan beton bertulang, karakteristik material dan potensi paparan klorida menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan berdasarkan desain serta standar teknis yang berlaku.

Wartawan Diusir Saat Rekonstruksi TPPU Kasino Akau di Batam, PWO DWIPA Desak Propam Turun Tangan

Hendri mengatakan, persoalan korosi tulangan pada beton dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan retak di sepanjang posisi tulangan, pengelupasan selimut beton atau spalling, berkurangnya penampang efektif tulangan, menurunnya lekatan baja dengan beton, serta berkurangnya umur layan struktur.

Namun, FRIC menekankan bahwa potensi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa bangunan di Bukit Kemuning mengalami kerusakan. Yang harus dilakukan adalah pengujian dan pemeriksaan teknis untuk memastikan apakah material yang digunakan memang memenuhi persyaratan.

Karena itu, FRIC meminta pemeriksaan tidak berhenti pada tumpukan pasirnya. Jika material tersebut digunakan sebagai timbunan kawasan perumahan, sejumlah parameter juga perlu diperiksa, mulai dari karakteristik geoteknik, gradasi, kadar air, kepadatan lapangan, metode dan tingkat pemadatan, daya dukung tanah, kondisi tanah asli, sistem drainase hingga potensi settlement atau penurunan tanah.

“Keselamatan nyawa penghuni tidak boleh dianggap main-main oleh pihak developer. Konsumen kelak yang akan menempati bangunan tersebut. Karena itu, material yang digunakan harus jelas spesifikasinya dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis,” tegas Hendri.

Kini pertanyaan publik mengerucut pada satu hal: jika pasir tersebut memang digunakan untuk pembangunan perumahan, apakah hasil uji laboratorium dan dasar teknis penggunaannya siap dibuka kepada publik!

Mahasiswa Pariwisata Batam Belajar Langsung Kehumasan di Polda Kepri, Kamtibmas Disebut Kunci Pariwisata

(Tim Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement