Advertisement
Batam Kriminal Peristiwa
Beranda » 2,6 Ton Sabu Cair Jadi Alarm Keras Kepri, Asep Safrudin: “Kita Perang!”

2,6 Ton Sabu Cair Jadi Alarm Keras Kepri, Asep Safrudin: “Kita Perang!”

Republikbersuara.com, Batam – Kepulauan Riau kembali diguncang pengungkapan narkotika dalam jumlah fantastis. Sebanyak 2,6 ton methamphetamine cair berhasil digagalkan dalam operasi gabungan BNN RI, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Polda Kepri di perairan Karimun.

Narkotika dalam jumlah jumbo tersebut diangkut menggunakan kapal MV Ocean Porter berbendera Tanzania. Kapal itu dicegat aparat di wilayah perairan Karimun Anak pada 17 Agustus 2026, setelah sebelumnya terpantau memiliki sejumlah kejanggalan dalam pergerakannya.

Pengungkapan tersebut dipaparkan dalam konferensi pers di Dermaga Bea Cukai Tanjung Uncang, Batam, Kamis (20/8/2026).

Operasi tersebut melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara dan aparat penegak hukum, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, Dirjen Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn.) Djaka Budhi Utama, Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, serta jajaran TNI, Polri, Bea Cukai dan Forkopimda Kepri.

Kapal Berganti Identitas, Muatan Mematikan

Pulau Penyengat Didatangi Djamari Chaniago dan Asep Safrudin

Kepala BNN RI Komjen Pol. Suyudi Ario Seto mengungkapkan, operasi tersebut berawal dari analisis intelijen bersama BNN RI dan Bea Cukai terhadap pergerakan kapal yang dianggap tidak lazim.

Kapal tersebut diketahui beberapa kali berganti identitas, mulai dari Hong Run 2, Race Wind, Rain Maker, hingga kemudian menggunakan nama MV Ocean Porter dengan bendera Tanzania.

Anomali tersebut menjadi salah satu petunjuk yang kemudian ditindaklanjuti aparat.

Pada 17 Agustus 2026, tim gabungan melakukan pemantauan dan konsolidasi taktis bersama BNNP Kepri, Bea Cukai dan Polda Kepri.

Sekitar pukul 18.30 WIB, MV Ocean Porter akhirnya diintersepsi di perairan Karimun Anak.

Polda Kepri Masuk Lima Besar Nominator Kompolnas Awards 2026, Konsep “Secure Kepri, Secure Your Investment” Disorot

Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan ruang penyimpanan tersembunyi yang berisi cairan mencurigakan.

Pengujian menggunakan Narcotics Identification System (NIS) kemudian mengungkap fakta mengejutkan: cairan tersebut positif mengandung methamphetamine.

Total barang bukti mencapai 2.600 liter atau sekitar 2,6 ton methamphetamine cair.

Barang bukti itu terdiri dari delapan drum dengan kapasitas keseluruhan 1.600 liter dan satu water tank berisi 1.000 liter.

Sepuluh orang anak buah kapal (ABK) turut diamankan. Keseluruhannya diketahui merupakan warga negara Myanmar dan kini menjalani pemeriksaan untuk mengungkap lebih jauh jaringan di balik pengiriman narkotika tersebut.

Iptu Yelvis Oktaviano, Bawa Harapan Untuk Liusman Laia Buruh Tani Teluk Bakau

Bukan Sekadar Sabu, Rokok Ilegal Juga Ditemukan

Pengungkapan MV Ocean Porter ternyata tidak berhenti pada narkotika.

Petugas juga menemukan 1.570.000 batang rokok polos tanpa pita cukai merek GD yang diduga berasal dari Tiongkok di dalam kontainer nomor DRYU9201919.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn.) Djaka Budhi Utama menyebut rokok tersebut terdiri dari 157 boks dengan nilai diperkirakan mencapai Rp3,917 miliar.

Sementara potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan mencapai Rp4,463 miliar.

Bea Cukai selanjutnya akan melakukan penyidikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang cukai.

Di sisi lain, BNN bersama aparat terkait masih melakukan pendalaman untuk membongkar siapa pemilik barang, pengendali jaringan, jalur distribusi, sumber pendanaan hingga kemungkinan keterlibatan jaringan internasional.

Asep Safrudin: Kepri Adalah Wilayah Perang

Kapolda Kepri Irjen Pol. Asep Safrudin menegaskan bahwa pengungkapan tersebut menjadi bukti pentingnya sinergi lintas lembaga dalam menjaga wilayah Kepulauan Riau.

Dengan karakter geografis Kepri yang sekitar 98 persen wilayahnya merupakan laut, celah penyelundupan melalui jalur laut menjadi tantangan serius bagi aparat.

“Secara preventif jajaran Polda Kepri terus melakukan berbagai upaya. Seperti kita ketahui, sekitar 98 persen wilayah kita adalah laut. Oleh karena itu, kita selalu bersinergi dengan seluruh stakeholder, BNN, Mabes Polri, TNI, Bea Cukai, termasuk masyarakat nelayan dan komunitas-komunitas lainnya untuk bersama-sama menjaga Kepulauan Riau ini,” ujar Asep Safrudin.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi alarm keras bahwa jalur laut Kepri terus menjadi medan pertempuran melawan jaringan narkotika.

“Kita perang.”

Perang tersebut bukan hanya terhadap para kurir yang berada di lapangan, tetapi juga terhadap aktor yang mengendalikan rantai pasokan, pemodal, pemilik barang hingga jaringan internasional yang memanfaatkan wilayah perairan Kepri sebagai jalur masuk narkotika.

Rp8,47 Triliun dan 14,1 Juta Jiwa dalam Taruhan

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan RI Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengapresiasi keberhasilan operasi gabungan tersebut.

Menurutnya, pengungkapan 2,6 ton narkotika cair merupakan bukti nyata sinergi aparat dalam melindungi masyarakat dan generasi bangsa.

Berdasarkan perhitungan BNN RI, narkotika tersebut memiliki potensi nilai ekonomi sekitar Rp8,478 triliun berdasarkan asumsi produk turunannya.

Lebih mengerikan lagi, dari aspek kemanusiaan, pengungkapan tersebut diperkirakan menyelamatkan sekitar 14.130.430 jiwa atau lebih dari 14,1 juta jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkotika.

Angka tersebut menunjukkan bahwa yang berhasil dihentikan aparat bukan sekadar sebuah kapal dan sejumlah drum cairan.

Di balik 2,6 ton methamphetamine cair, terdapat potensi kehancuran jutaan generasi.

Dan bagi Kepri, pengungkapan ini menjadi pesan keras: perang terhadap jaringan narkotika belum selesai.

(Tim Redaksi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement